feature

Sekarang Bukan Waktu yang Tepat untuk Melambat

Catatan Hati Seorang Instruktur VCT Batch 5 DI Yogyakarta

Pengantar Redaksi
Ada banyak sisi lain dari acara Pembukaan VCT Batch 5 seantero Jateng-DIY yang jarang terekspose di publik. Salah satunya adalah di wilayah kabupaten Bantul, DIY. Berikut ini adalah catatan hati seorang instruktur yang juga Korda 1 DIY, Harsiana Wardhani, sesaat usai acara Pembukaan VCT Batch 5.

Sesosok laki-laki yang sebagian rambutnya telah memutih itu duduk sendiri. Tubuhnya tak lagi tegap, bahkan terkesan kurus tanpa daya. Kuamati dalam-dalam, lensa minus tebal terpasang dalam bingkai  kacamata yang melekat di wajahnya. Ia sibuk dengan HPnya. Ternyata Ia sedang menanti kabar dari kerabat yang akan menjemputnya pulang.

Dalam pembicaraan singkat kami, kutemukan jawab atas sebuah pertanyaan yang selama ini pernah menghampiriku. 

Seperti apa sebuah semangat itu bekerja? Aku sering mendapatkan pertanyaan seperti itu. Dan aku selalu tidak tahu, kata-kata seperti apa yang mampu menjelaskannya. Aku hanya tahu, orang-orang di sekitarkulah sumber semangatku. Kupikirkan segala dedikasi mereka, pengabdian, dan tanggung jawab yang selalu tertunaikan dengan purna dan prima. Kurenungkan setiap peluh yang menetes tanpa keluh. Salah satu cara semangat bekerja menurutku seperti itu. Sebuah semangat bekerja selalu tanpa syarat.

Seperti apa sebuah semangat itu bekerja? Aku mengalaminya hari ini. Ketika langkah riang tapak ini mengayun mengawal pembukaan Virtual Coordinator Training Batch 5 Wilayah DIY 1. Kudapati dan kulihat semangat yang membukit dari seluruh peserta yang hadir. Kudapati wajah-wajah calon pembaharu bagi lingkungannya. Kurasakan  setiap napas mereka nantinya akan mampu menembus lintas batas berbagai keterbatasan. Pengetahuan baru yang akan mereka dapatkan akan  membawa perubahan. Semangat yang mereka miliki akan membawa mereka jauh dari yang pernah mereka bayangkan. Aku percaya, merekalah sosok-sosok yang tak mau diam menunggu keberuntungan datang. Mereka sosok yang siap berjuang atas sesuatu yang telah mereka pilih. Semangat bekerja dengan cara  melampaui hal-hal yang biasa.

Seperti apa sebuah semangat bekerja? Aku menemukannya dari sesosok laki-laki itu, Pak Bejo. Laki-laki pejuang VCT Batch 5. Fisik yang mungkin telah lemah, dan usia yang tak lagi muda, namun semangatnya tak menua. Diri ini terhenyak, terpekur dalam diam. Ada rasa haru yang melesak dalam hati. Inikah semangat itu? Bekerja melampaui yang seharusnya dikerjakan. Tak mau menyerah pada keterbatasan keadaan. Lalu  diri ini yang lebih muda usia darinya, seakan-akan menjadi malu jika harus selalu maklum pada kata menyerah. Sesosok laki-laki yang menyadarkanku bahwa setiap aku bangun dari mimpi indah, di saat itulah  aku harus siap dengan semua masalah. Jika sebuah semangat bekerja, maka akan mendapatkan hasil yang indah untuk diceritakan dan dikenang.

“Mohon bimbingannya, bu… Saya ingin lulus”, ujarnya di tengah-tengah percakapan.

Hari ini aku mendapat pelajaran berharga, Virtual Coordinator Training (VCT) yang digagas oleh SEAMEO tak mengentikan langkah sosok yang telah senja untuk terus berkembang. Langkahnya menuju titik kumpul pertemuan yang berjarak tak kurang 60 kilometer menyiratkan bahwa semangatnya kelak akan mampu menahan perihnya belajar. Aku yakin VCT bukanlah titik akhir dari perjalanannya yang tak lama lagi akan selesai secara kedinasan. Angan dan impiannya yang tinggilah yang membuatnya kuat meskipun raga terlihat lemah.

“Saya mendapatkan info ini secara tak sengaja, cuma klik-klik Facebook, kok ada tawaran virtual training. Lalu saya ikuti petunjuknya. Saya lupa baca akun Facebooknya siapa. Yang jelas Tuhan Yang Maha Kuasa telah membimbing saya untuk mempelajari hal hal tersebut”, katanya memberi penjelasan saat kutanya dari siapa ia mendapat info tentang VCT.

Saat kutanya, mengapa ia antusia mengikuti kegiatan ini, Pak Bejo pun menjawab, “Ya bu, saya berminat mempelajari sampai dapat menerapkan di sekolah kami, karena saya ingin berperan aktif dalam meningkatkan pelayanan pendidikan di tempat saya bekerja di SLB Negeri 1 Kulonprogo, walaupun sebenarnya saya seorang pustakawan”.

Para peserta bersama instruktur

SEAMEO melalui VCT yang telah menapak pada batch 5 menjadi salah satu jalan yang membuka mata hati bahwa zona nyaman kadang harus kita pertahankan apabila itu berdampak baik. Namun zona nyaman yang tak lagi terasa nyaman haruslah mampu merubah setiap pribadi bergerak menuju arah yang lebih indah. Terima kasih Pak Bejo, darimu aku belajar tentang banyak hal. Aku belajar bahwa bergerak untuk menjadi lebih bermakna adalah sebuah pilihan. Mungkin engkau adalah tanda yang diberikan Tuhan agar aku dan kami semua yang lebih muda membuat perubahan. Aku makin tersadar bahwa memang benar, hanya katak saja yang boleh ada di dalam tempurung.

Terima kasih Bapak DR. Gatot H.P, tetaplah menjadi sumber motivasi dan inspirasi dalam melangkah menjadi pribadi yang lebih baik. Aku dan kami yang ada di belakangmu akan terus belajar menuntaskan peran ini. Segala luka, lelah, tawa, canda, dan kasih sayang yang ada dalam perjalanan ini adalah hiasan paling berwarna menuju kemerdekaan dalam belajar.  Kesemuanya itu menjadi pelengkap kami dalam berkontribusi baik bagi persada ini. Semuanya akan kami simpan dalam palung hati. Semuanya akan terus mewangi dan menguarkan semangat pantang menyerah. Wangi dari hasil luka perjalanan yang telah jauh ini akan terus kami peluk. Dan semoga tercium sebagai wangi yang menenangkan nurani.

Jogja Barat, 4 Agustus 2019

Kutulis dengan hati untuk merayakan kemenanganku dalam belajar di hari ini. (HARSI/KORDA DIY 1/dr)

Penyerahan sertifikat oleh Kepala Bidang SD Dikpora, Bantul
Penyerahan sertifikat Instruktur oleh Kepala Balai Dikmen Kab. Bantul
Korda 1 DIY memberikan sambutan
Liputan Kedaulatan Rakyat

6 thoughts on “Sekarang Bukan Waktu yang Tepat untuk Melambat”

  1. Semangat yang luaaaar biasa Bu . Beliau sangat antusias untuk suatu perubahan dan meninggalkan zona nyama. Semangat seperti beliau perlu ditiru untuk memacu semangat yg pingin berubah.
    Salut juga pada Bu Harsi yg dengan senyum terindahnya merengkuh dan mendampingi beliau.
    Semoga ini juga jadi inspirasi bagi diriku untuk menjadi instruktur yang rela memberikan hati untuk mendampingi peserta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *